Kado Yang Tertukar

Saturday, October 03, 2009


Fiuuh. . . akhirnya selesai juga. Hampir seharian aku menyiapkan 4 buah kado untuk besok. Ya . . . besok adalah hari Valentine. Hari yang penuh dengan kasih sayang.
Sebenarnya aku hanya butuh 3 buah kado untuk 3 orang sahabatku, Vino, Kia dan Abel. Tapi, kakakku, kak Sarah yang malas itu memintaku untuk membungkuskan kado untuk pacarnya juga.
***
Pagi harinya, kak Sarah sudah mengambil kado miliknya terlebih dahulu di kamarku sebelum aku bangun. Ia bahkan tidak menanyakan yang mana kadonya. Aku hanya berharap agar dia mengambil kado yang benar.
Setelah itu aku berangkat ke sekolah. Dan ketika sampai di sekolah, aku sudah melihat nuansa valentine di setiap mading kelas, dan pastinya termasuk kelasku juga. Yang mengisi mading kelasku tentu saja Abel dan teman-teman sekelasku yang mengikuti eskul jurnalistik. Kalau aku sih hanya membantu menilai mading hasil kerja mereka. Yah, karena untukku yang hanya mendapat nilai 7 di pelajaran bahasa Indonesia, tentu sulit dan malas untuk membuat artikel-artikel itu.
Saat kumasuki kelas, kulihat Vino dan Abel yang berbincang-bincang sembari menungguku.
“Hai,” sapaku sambil mengejutkan.
“Hai Rachel,” sahut Vino dan Abel bersamaan.
“Aku punya kado valentine buat kalian, ini.” Kataku sambil memberikan kado yang sudah kupersiapkan itu.
“Wah makasih Chel, ini buat kamu juga.” Balas Abel sambil memberikan kadonya juga.
“Ya, makasih Chel, Bel. Aku buka di rumah aja ya.” Jawab Vino.
“Terserah kamu, Vin. Oh iya, Kia mana?” tanyaku lagi.
“Dia belum datang tuh.” Jawab Abel.
Kemudian Kia datang dan langsung berlari menuju arah kami. Kemudian, langsung saja kuserahkan kado Valentine untuknya.
***
Keesokan harinya, saat aku datang ke sekolah, tiba-tiba saja tingkah laku Vino berubah drastis dan aneh padaku. Akupun tidak tahu apa yang menyebabkannya, seingatku aku tidak pernah berbuat salah padanya.
“Chel, nanti pulang sekolah, aku mau bicara sama kamu.” Pinta Vino.
“Em, boleh. Tapi, nanti aku ada rapat OSIS dulu.”
“Nggak apa-apa. Aku akan tunggu kamu.”
***
Setelah aku selesai rapat OSIS, kulihat Vino masih bermain basket di lapangan. Kemudian aku menghampirinya.
“Mau bicara apa, Vin?”
“Tentang kado valentine kamu kemarin.”
“Oh itu. Memangnya kenapa? Kamu nggak suka ya?”
“Bukannya gitu, Chel. Tapi aku nggak mau persahabatan kita rusak karena kita punya hubungan spesial.”
“Tunggu dulu ! Hubungan spesial apa ? aku nggak ngerti?”
Kemudian Vino menyerahkan kado Valentine yang kuberikan padanya kemarin. Aku terkejut ketika melihat isi di dalamnya. Ternyata aku telah memberikan kado yang salah padanya. Kadoku pasti tertukar dengan kado kak Sarah saat ia mengambil kadonya di kamarku. Karena isi dari kado yang kuberikan pada Vino adalah coklat, dan kartu ucapan bertuliskan “I Love U.. U are my Soulmate…”. Akhirnya aku menjelaskan pada Vino sejelas-jelasnya bahwa kado itu tertukar. Duuh… betapa malunya aku.
***
Ketika aku sudah sampai di rumah, aku langsung menghampiri kak Sarah. Kemudian, Kak Sarah aku marahi habis-habisan, karena dia telah mengambil kado dengan seenaknya tanpa bertanya padaku dulu. Sehingga jadilah kado kami tertukar, dan persahabatanku dengan Vino hampir saja rusak. Akhirnya Kak Sarah meminta maaf padaku dan menyesali perbuatannya.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram